PROPOSAL
PENELITIAN
VIABILITAS
BIJI KELOR (Moringa oleifera) DAN PERTUMBUHAN BIBIT PADA
BERBAGAI TINGKAT KEMATANGAN BUAH

OLEH
SUMARJAN
C1M011144
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
MATARAM
2015
BAB.
I. PENDAHULUAN
1.1.
Latar
belakang
Kelor (Moringa oleifera)
merupakan tanaman yang berasal dari dataran India yang sudah sangat dikenal di
Nusa Tenggara Barat karena selain berfungsi sebagai pagar hidup di pekarangan
dan kebun, kelor juga dikenal dengan istilah tanaman ajaib, dikarenakan
memiliki banyak manfaat. Salah satu manfaatnya adalah sebagai sumber vitamin A sebanyak
empat kali wortel, vitamin C sebanyak tujuh
kali dari jeruk, kalsium sebanyak empat
kali susu dan digunakan sebagai bahan baku energi alternative pengganti solar
(Kelorina, 2014).
Minyak biji
Kelor mengandung asam oleat yg tinggi (70%), dengan asam lemak jenuh yg terdiri dari sebagian
besar profil asam lemak yg tersisa. Metil ester (biodiesel) yg diperoleh dari
minyak ini memiliki angka oktan tinggi sekitar 67,sehingga sangat cocok untuk
bahan bakar biodiesel (Santoso, 2014).
Kelor juga
merupakan tanaman yang tahan terhadap kondisi lingkungan yang tercekam, sehingga
kelor mampu tumbuh meskipun pada kondisi yang sangat kering sekalipun. Hanya
saja untuk tujuan bisnis diperlukan budidaya secara intensif agar mendapatkan
pertumbuhan kelor yang optimal.
Sebagai
tanaman tahunan, maka peranan yang bibit yang baik dan berkualitas menjamin
pertumbuhan dan hasil tanaman di lapang. Sedangkan bibit yang baik dipengaruhi
oleh kondisi benih yang baik pula. Untuk perbanyakan biji harus memperhatikan
aspek-aspek biologis yang terdapat pada biji tersebut. Salah satu aspek yang
paling penting adalah viabilitas biji.
Viabilitas
biji berhubungan dengan tingkat kematangan biji. Biji yang sudah mengalami
matang fisiologis memiliki tingkat viabilitas yang lebih baik dibandingkan
tanaman yang belum matang fisiologis (Qamara, 1995). Pada tanaman kedelai ciri –ciri buah
yang baik untuk benih adalah buah yang berwarna coklat penuh dan, apabila 95 % polong pada batang utama telah
berwarna kuning kecoklatan ( BPTJS, 1995). Informasi pada aspek-aspek
viabilitas biji (benih) pada tanaman kelor masih sangat terbatas, padahal jika
kelor ini akan dikembangkan, informasi aspek pembibitan sangat diperlukan.
Dari uraian di atas, maka penelitian
tentang viabilitas biji kelor dan perkembangan bibit pada berbagai tingkat
kematangan buah sangat penting untuk dilakukan.
1.2. Tujuan dan kegunaan penelitian
1.2.1.
Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pengaruh tingkat
kematangan buah kelor terhadap pertumbuhan bibit kelor.
1.2.2.
Kegunaan penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan sebagai dasar dalam
pengembangan pembibitan tanaman kelor. Penelitian ini juga diharapkan dapat
menjadi acuan dan sumber pustaka bagi penelitian lainnya yang terkait dengan
tanaman kelor.
1.3.
Hipotesis
Untuk mengarahkan
jalannya penelitian ini maka diajukan hipotesis yaitu diduga ada perbedaan
viabilitas dan pertumbuhan bibit pada berbagai tingkat kematangan buah kelor.
BAB.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tanaman kelor
Kelor atau marungga (Moringa
oleifera) adalah tanaman dari suku Moringaceae. Tanaman ini berasal dari
kaki pegunungan Himalaya bagian Selatan di India Utara. Dewasa ini tanaman ini
telah menyebar ke seluruh India, Sri lanka, Afrika, Indonesia,
Malaysia, Filipina, Mexico, serta Amerika Tengah dan Selatan.
Kelor
merupakan tanaman yang dapat mentolerir berbagai kondisi lingkungan, sehingga
mudah tumbuh meski dalam kondisi ekstrim seperti temperatur yang sangat tinggi,
di bawah naungan dan dapat bertahan hidup di daerah bersalju ringan. Kelor tahan
dalam musim kering yang panjang dan tumbuh dengan baik di daerah dengan curah
hujan tahunan berkisar antara 250 sampai 1500 mm. Meskipun lebih suka tanah
kering
lempung berpasir atau lempung, tetapi dapat hidup di tanah yang didominasi
tanah liat (Kelorina, 2014).
a. Akar
Akar tunggang, berwarna putih. Kulit
akar berasa dan berbau tajam dan pedas, dari dalam berwarna kuning pucat,
bergaris halus, tetapi terang dan melintang. Tidak keras, bentuk tidak
beraturan, permukaan luar kulit agak licin, permukaan dalam agak berserabut,
bagian kayu warna cokelat muda, atau krem berserabut, sebagian besar terpisah.
Akar tunggang berwarna putih, membesar seperti lobak.
b. Batang
Kelor termasuk jenis tumbuhan perdu yang
dapat memiliki ketingginan batang 7 – 12 meter. Merupakan tumbuhan yang
berbatang dan termasuk jenis batang berkayu, sehingga batangnya keras dan kuat.
Bentuknya sendiri adalah bulat (teres) dan permukaannya
kasar. Percabangan pada batangnya merupakan cara percabangan simpodial dimana
batang pokok sukar ditentukan, karena dalam perkembangan selanjutnya mungkin
lalu menghentikan pertumbuhannya atau kalah besar dan kalah cepat
pertumbuhannya dibandingkan cabangnya.
c. Daun
Daun majemuk, bertangkai panjang,
tersusun berseling (alternate), beranak daun gasal (imparipinnatus), helai daun
saat muda berwarna hijau muda – setelah dewasa hijau tua, bentuk helai daun
bulat telur, panjang 1 – 2 cm, lebar 1 – 2 cm, tipis lemas, ujung dan pangkal
tumpul (obtusus), tepi rata, susunan pertulangan menyirip (pinnate), permukaan
atas dan bawah halus.
d.
Bunga
Bunga muncul di ketiak daun (axillaris),
bertangkai panjang, kelopak berwarna putih agak krem, menebar aroma khas.
Bunganya berwarna putih kekuning-kuningan terkumpul dalam pucuk lembaga
di bagian ketiak dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau. Malai terkulai 10
– 15 cm, memiliki 5 kelopak yang mengelilingi 5 benang sari dan 5 staminodia.
Bunga Kelor keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak.
e.
Buah atau Polong
Kelor berbuah setelah berumur 12 – 18 bulan. Buah atau polong Kelor
berbentuk segi tiga memanjang yang disebut klentang (Jawa) dengan panjang 20 –
60 cm, ketika muda berwarna hijau – setelah tua menjadi cokelat, biji didalam
polong berbentuk bulat, ketika muda berwarna hijau terang dan berubah berwarna
coklat kehitaman ketika polong matang dan kering. Ketika kering polong membuka
menjadi 3 bagian. Dalam setiap polong rata-rata berisi antara 12 dan 35
biji.
f.
Biji
Biji berbentuk bulat dengan lambung
semi-permeabel berwarna kecoklatan. Lambung sendiri memiliki tiga sayap
putih yang menjalar dari atas ke bawah. Setiap pohon dapat menghasilkan
antara 15.000 dan 25.000 biji/tahun. Berat rata-rata per biji adalah 0,3
g. (Makkar dan Becker, 1997).
2.2.
Perbanyakan tanaman kelor dengan biji
Biji yang ditanam sebaiknya berasal dari biji yang sudah diseleksi
berasal dari tanaman yang sehat, dipanen pada waktu buah polong kelor sudah tua
dan biji dikeringkan dengan baik. Biji yang dipilih sebagai calon benih adalah
biji yang sehat penampilan biji tidak keriput, cacat atau rusak.
Polong kering tersebut yang masak di pohon sangat ideal
sebagai benih calon pohon kelor. Di alam bebas benih kelor tua tersebut jatuh
sendiri terkena angin dan terbawa air sehingga dalam beberapa hari kemudian
memicu tumbuh benih berkecambah dan menjadi pohon kelor muda.
Biji yang
sudah diseleksi sebagai calon benih sebelum ditanam direndam dalam air hangat
dan dibiarkan selama satu malam atau sampai biji terlihat mengembang, biji yang
mengapung sebaiknya dibuang dan tidak digunakan sebagai benih. Biji yang sudah
direndam kemudian ditiriskan dan dapat ditanam segera atau paling lambat sehari
setelah ditiriskan.
Biji Kelor dapat diambil
dari polong atau buahnya yang sudah tua, berwarna coklat dan mudah pecah.
Namun, bila mendapatkannya dari sumber lainnya, maka pilihlah sumber yang dapat
dipercaya. Benih yang baik harus layak, berisi, bersih dan bebas penyakit.
Benih tidak boleh disimpan dalam waktu lama karena biji Kelor akan kehilangan
viabilitas (daya kecambah) setelah sekitar satu tahun (BPTP, 2011).
2.3. Persemaian biji kelor di persemaian
Biji harus ditabur pada kedalaman maksimum 2 cm. Lubang tanam yang
terlalu dalam, akan sangat mengurangi tingkat perkecambahan. Tiap lubang dapat
diisi satu atau dua biji. Bila harga biji mahal atau sulit untuk memperolehnya,
pilihan yang lebih baik adalah dengan menanam satu biji saja dan menunggu dua
minggu untuk perkecambahan.
Biji kelor berkecambah 5 sampai 12 hari setelah tanam. Jika biji
tidak berkecambah setelah dua minggu, harus diganti karena tanaman tidak akan
tumbuh dengan baik nantinya. Sebaiknya periksa lubang tanam, apakah ada
serangan semut atau rayap terhadap biji yang ditanam. Jika hal ini terjadi,
lubang harus diberi larutan insektisida, dan gunakan yang alami seperti daun
nimba. Setelah itu penyemaian dapat dilakukan kembali.
2.4.Pertumbuhan bibit di
polybeg
Tempatkan
polybag di daerah yang sedikit ternaungi agar terlindungi dari hujan lebat atau
panas yang terik. Siram setiap 2 sampai 3 hari tergantung pada kelembaban
tanah, dianjurkan 10-20 ml air untuk setiap polybag. Pada tahap ini tanaman
harus terlindung dengan baik dari belalang, rayap dan hewan lain.
2.5. Uji viabilitas benih
Viabilitas benih adalah daya hidup benih yang dapat
ditunjukkan melalui gejala metabiolisme dan atau gejala pertumbuhan, selain itu
daya kecambah juga merupakan tolak ukur parameter viabilitas potensial benih
(Sadjad, 1993).
Kelangsungan daya hidup benih
ditunjukan oleh persentase benih yang akan menyelesaikan perkecambahan,
kecepatan perkecambahan dan vigor akhir yanga menyelesaikan perkecambahannya.
Proses perkecambahan suatu benih, memerlukan kondisi lingkungan yang baik,
viabilitas benih yang tinggi dan pada beberapa jenis tanaman tergantung pada
upaya pemecahan dormansinya. Vigor benih dapat menjadi informasi penting untuk
mengetahui kemampuan tumbuh normal dalam kondisi optimal dan sub optimal
(Shankar, 2006).
Kualitas benih digolongkan menjadi tiga
macam, yaitu kualitas genetik, fisiologis, dan kualitas fisik. Pengujian
viabilitas dilakukan untuk mengetahui kualitas fisiologis yang berkaitan dengan
kemampuan benih untuk berkecambah. Index matematis terhadap perkecambahan dapat
mudah untuk menggambarkan kualitas benih yang dapat diterima oleh seluruh
konsumen (Al-Karaki, 2002).
Perbedaan daya kecambah
antar varietas dapat disebabkan karena masing-masing benih mempunyai ukuran
yang berbeda-beda, kandungan zat makanan serta umur panen yang berlainan.
Perbedaan sifat terebut disebabkan oleh faktor genetik masing-masing benih. Faktor genetik yang dimaksud adalah varietas-varietas yang mempunyai genotype
baik (good genotype) seperti produksi tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit,
responsif terhadap kondisi pertumbuhan yang lebih baik (Sunarto
et al 2001).
Menurut (Wahab dan Dewi
2003) kemampuan benih untuk tumbuh dan berproduksi normal pada kondisi yang
optimum merupakan parameter daripada suatu viabilitas potensial benih. Selain
itu yang menjadi tolok ukur dari viabilitas benih tersebut yaitu daya kecambah
dan berat kering dari suatu kecambah yang normal. Pengujian daya berkecambah parameter
yang digunakan berupa persentase kecambah normal berdasarkan penilaian terhadap
struktur tumbuh embrio yang diamati secara langsung, Pengujian pada kondisi
lapang biasanya tidak memberikan hasil yang memuaskan karena tidak dapat
diulang dengan hasil yang akurat.
2.6.
Tingkat kematangan buah hubungannya dengan viabilitas danb pertumbuhan bibit.
Perkecambahan benih dapat dipengaruhi oleh faktor dalam
antara lain tingkat kemasakan benih. Benih yang dipanen sebelum mencapai
tingkat kemasakan fisiologis tidak mempunyai viabilitas tinggi. Pada beberapa
jenis tanaman, benih yang demikian tidak akan dapat berkecambah. Hal ini diduga
benih belum memiliki cadangan makanan yang cukup dan pembentukan embrio belum
sempurna (Imam, 2008).
Kematangan
buah dapat dicirikan oleh kadar air benih, perubahan warna buah, kadungan
bahan kimia pada benih serta pematangan buatan (Bonner et al., dalam Suita,
E,dkk, 2008). Benih disebut masak apabila secara fisiologi dapat berkecambah,
buah atau organ pembentuk biji sudah masak. Proses pematangan buah dan biji
biasanya seiring, sehingga kemasakan buah dan biji diperoleh pada waktu yang
hampir bersamaan. (Schmidt dalam Suita, E,dkk, 2008).
Dalam konsep Steinbauer – Sadjad (sadjad, 1993)
dikemukakan bahwa biji dapat mempunyai kemampuan berkecambah yang berbeda
selama proses pematangannya, dan secara umum dapat dibedakan ke dalam
tiga fase. Fase pertama adalah saat biji pada kondisi matang morfologis
sampai biji matang untuk berkecambah. Fase kedua merupakan periode dimana
biji mempunyai daya berkecambah yang maksimal. Sedangkan fase ketiga
merupakan periode terjadinya penurunan daya berkecambah benih.
BAB.
III. METODELOGI PENELITIAN
3.1. Waktu dan tempat
Penelitian ini direncanakan dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2015 di
laboratorium produksi dan kebun percobaan Fakultas Pertanian UNRAM
3.2.
Alat dan Bahan
Alat-alat yang
digunakan antara lain : Bak kecambah, alat
tulis, plastik, oven, timbangan, kamera dan kertas.
Bahan yang digunakan antara lain :
tanah, skam padi, isolasi, label pupuk kompos dan polybeg.
3.3.
Perancangan pelaksanaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan
Acak Lengkap (RAL). Dalam penelitian ini terdapat 3 perlakuan yaitu :
1.
Tingkat kematangan optimal (buah hijau
gelap).
2.
Buah kelewat matang (buah sebagian
mongering)
3.
Tingkat masak (buah telah mongering
seluruhnya)
Setiap
perlakuan dibuat 3 ulangan yang terdiri atas 2 bak kecambah berisi 50 biji tiap
ulangan. Percobaan untuk mengetahui pertumbuhan bibit, dilakukan dengan menanam
semai dalam polibeg setiap perlakuan dibuat dalam 3 ulangan yang terdiri dari
20 unit tanaman setiap ulangan.
Uji
lanjut menggunakan ujiwilayah
berganda Duncan pada taraf
5 %.
3.4. Pelaksanaan penelitian
Pelaksanaan penelitian ini meliputi
1.
Persiapan benih
Benih
yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih benih lokal yang berasal dari
kawasan lahan kering yaitu Pringgabaya, Nusa Tenggara Barat. Biji diambil dari
2 tanaman yang tumbuh subur dan sehat
2.
Persiapan media tanam persemaian
Media
tanam yang digunakan dalam penelitian ini adalah media tanam campuran tanah,
pasir dan sekam padi dengan perbandingan 3:2:1 berdasarkan volumenya.
3.
Persemaian
Persemaian dilakukan dengan membenamkan biji kelor
sedalam
2 cm ke dalam bak kecambah, setiap bak
kecambah diisi dengan 50 biji.
4.
Persiapan media tanam pembibitan
Media
tanam yang digunakan dalam penelitian ini adalah media tanam campuran tanah
dengan sekam padi dan pupuk kandang 3 :
1 : 1 berdasarkan volumenya.
5.
Pindah tanam
Pindah
tanam dilakukan setelah 3 minggu atau tingginya sekitar 10 cm dengan cara memilih semai yang tumbuh subur,
tidak terlalu pendek dan vigor.
6.
Pemerliharaan bibit
Kegiatan pemeliharaan dalam penelitian ini yaitu :
a. Penyiraman
Penyiraman disesuaikan dengan kebutuhan tanaman supaya
kelembaban tanah tetap terjaga, penyiraman dilakukan setiap hari dengan
mempertimbangkan kondisi tanaman.
b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan jika ada gulma yang tumbuh di media tanam
dengan cara mencabutnya.
3.5. Variabel respon dan cara pengumpulan data
Variabel
yang diamati dalam penelitian ini yaitu dibagi menjadi 2 yaitu : variabl viabilitas
biji dan variabel pertumbuhan bibit.
1.
Variabel viabilitas biji
a.
Daya kecambah
Dihitung
pada akhir fase persemaian yaitu 14 hari sejak dikecambahkan
Dengan
rumus
Daya kecambah =
b.
Laju perkecambahan
Laju
perkecambahan
Rata-rata
hari
keterangan:
(N) Jumlah benihyangber kecambah setiap hari; (T) Jumlah waktu antara awal pengujian sampai dengan akhir dari
interval tertentu suatu pengamatan
c.
Nilai perkecambahan (Sutopo, 2002 )
Nilai perkecambahan yaitu dimana
nilai puncak perkecambahan dikali nilai rata-rata perkecambahan harian yang
dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Nilai Puncak (Peak Value)PV=
keterangan:
(PV) Nilai puncak perkecambahan;
(T)
Titik dimana laju perkecambahan mulaimenurun
Nilai rata-rata
perkecambahan harian (MeanDaily germination)
MDG =
%
keterangan: (MDG)
Rata-rata perkecambahan harian;
(Z)
Saat perkecambahan terakhir
Nilai
Perkecambahan (NP)
NP
= PV x MDG
d.
Berat kering semai
Dihitung
pada akhir fase persemaian dengan cara dioven.
2.
Variabel pertumbuhan bibit.
a. Tinggi
bibit
Pengamatan
dilakukan dengan cara mengukur tinggi batang dari pangkal batang di atas
permukaan tanah sampai ujung batang pokok setiap tanaman. Pengamatan dilakukan
setiap 2 minggu sekali.
b. Diameter
batang
Pengamatan
dilakukan dengan mengukur diameter batang pokok yang terletak di pangkal batang
di atas permukaan tanah pengamatan dilakukan setiap 2 minggu sekali.
c. Jumlah
akar lateral
Pengamatan dilakukan
dengan menghitung jumlah akar lateral yang muncul pada setiap akar tunggang.
Pengamatan dilakukan setelah umur bibit 4 minggu
d. Berat
Akar segar dan kering.
Pengamatn
dilakukan dengan menimbang berat akar setelah panen yaitu pada saat tanaman
berumur 8 minggu. Kemudian ditimbang berat basahnya dan kemudian dioven pada
suhu 700C sampai diperoleh berat konstan.
e. Berat
tunas segar dan kering.
Pengamatan dilakukan saat panen
dengan cara memisahkan akar dan tunas tanaman, kemudian ditimbang berat
basahnya, selanjutnya dioven pada suhu 700C sampai diperoleh berat
konstan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Karaki. G.N. 2002. Seed size and
water potential effects on water uptake, germination and growth
oflentil. Journal of Agronomy Crop Science. 181(4) :237-242.
BPTP NTB.2011. Teknologi
Budidaya Tanaman kelor. Badan Litbang pertanian. NTB.
Imam, muhammad.2008
. Pengaruh Tingkat Kematangan Buah
Terhadap Perkecambahan Biji pada Pyracanta Spp .cibodas:buletin kebun raya
indonesia vol. 11 no 2, juli 2008 hal 36 – 40
Shankar, U. 2006. Seed size as a
predictor of germination success and early seedling
growth in Hollong (Dipterocarpus macrocarpus vesque). New Forests
31(2):305- 320.
Sadjad,Sjamsoe’oed.1993. Dari Benih Kepada Benih. PT Gramedia Widiasarana Indonesia: Jakarta.
Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih edisi revisi.Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya.PT. Raja Grafindo Persada. Malang.
Sunarto, T, Hilman, SB. 2001. Analisis
Korelasi dan Koefisien Lintasan Hasil Padi Sawah Pada Lahan Keracunan Fe. Penelitian
Pertanian Tanaman Pangan. Vol. 18 (2).
Wahab, M. K dan Dewi R. 2003. Pengaruh Ukuran dan Pencucian Benih Terhadap Viabilitas Benih. Penelitian
Tanaman Industri XIX (1-2): 38-41.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar